Ini dia event yang sempat membuat kepalaku puyeng. Selain membuat puyeng, kegiatan inipun merenggangkan hubungan mesra saya dengan blog ini pada bulan juni hingga juli. Adalah Festival La Galigo namanya! Saya tak sadar, saya tahu-tahu bisa nyebur dalam hiruk pikuk perhelatan seni budaya tersebut. Padahal, domain satuan kerja saya kini di ekonomi dan pembangunan.
Festival La Galigo merupakan rangkaian kegiatan HUT Kota Palopo yang di dalamnya ada beberapa item kegiatan. Di antaranya lomba perahu tradisional, funbike, dan puncaknya adalah Teater I La Galigo. Nah, yang membuat saya puyeng adalah pada pertunjukan Teater I La Galigo itu.
Awalnya saya tahu sekadarnya saja bahwa akan ada pertunjukan ini. Tak disangka, oleh si bos saya disuruh nyari teman yang bisa membantu Panitianya untuk jualan tiket. Sadar akan pentingnya event ini, dan semangat saya pada perkembangan industri kreatif, maka saya suruh datang-lah teman yang saya percaya mampu untuk mengeksekusi tugas ini. Setelah audiens sama penanggungjawab kegiatannya aka Kepala Dinas Budaya & Pariwisata, eh tau-tau nya saya yang diserahi tugas untuk bertanggungjawab. Awalnya saya ogah karena melihat beban kerja yang saat ini membutuhkan waktu ekstra. Tapi karena teman-teman berjanji membantu, dan tugas saya hanya mengkordinir saja, okelah saya terima dengan mengucap: Bismillahirahmanirahim!
Alhasil, saudara-saudara. Hampir tiap hari saya mencuri-curi waktu dari tugas pokok saya, demi menjalankan misi ini. Hampir seluruh sudut kota dijelajahi. Sampai ke daerah hinterland Kota Palopo. Tantangannya memang agak berat. Menjual 2000 lembar tiket seharga 100ribu dan 50rb rupiah kepada masyarakat Palopo yang belum terlalu familiar dengan teater dan cerita I La Galigo. Protes dari berbagai elemen masyarakat menghadang kami. Mulai dari isu harga tiket yang selangit, isu komersialisasi budaya, isu gedung kesenian yang tidak layak, isu pencaplokan gambar lukisan pada tiket & baliho yang tidak seizin pelukisnya, sampai pada sentimen negatif terhadap PNS yang ikut menjual tiket. Sungguh-sungguh membuat saya puyeng. Namun, tugas saya disini cuma menjual tiket. Saya tidak berada pada posisi sebagai Panitia Pelaksana. Sehingga, sikap kami jelas, yakni tidak memberikan respon terhadap segala macam isu tersebut. Biarkanlah Panitia Pelaksana yang secara face to face dengan civil society yang meneriakkan isu-isu tersebut.
Saya belajar marketing saat kuliah ekonomi dulu. Dalam mengeksekusi tugas ini, sayapun mencoba membuka-buka referensi tentang marketing event. Namun, layaknya sebuah organisasi marketing, semuanya memang harus komplit. Marketing adalah telling, not only selling! Jadi, sayapun berinisiatif untuk melakukan promosi seadanya. Seadanya, karena memang domain kami
hanya selling. Seluruh kegiatan promosi sepenuhnya tanggungjawab panitia pelaksana. Jadilah, saya sadar ini agak pincang. Namun, sekali lagi kami di sini memang hanya membantu. So, yang dapat kami lakukan adalah hanya promosi di seluruh jejaring sosial yang kami mampu gapai, menyebar poster, membagi brosur, memasang leaflet, SMS berantai, hingga live on air di radio Acca. Untuk memperpendek saluran distribusi, kami membuka 7 outlet resmi penjualan tiket. Paralel dengan itu, kami memasuki seluruh kantor-kantor pemerintah, dunia usaha, sekolah dan kampus.

Adegan Pementasan Teater I La Galigo: Pelayaran Cinta
Hasilnya bagaimana saudara? Pada pertunjukan tanggal 1 & 2 Juli, setengah kursi penonton tidak terisi. Kami sadar, ada yang keliru dalam manajemen event ini. Panitia pelaksana sejatinya mengintegralkan promosi-ticketing-production house dalam satu event organizer. Harus ada koordinasi yang padu. Okelah untuk production house dapat berjalan sendiri, namun organizing eventnya beserta promoting & ticketing haruslah padu. Bayangkan saja, dalam kegiatan ini, ada tiga logo yang dipublikasikan. Satu dari Panitia Pelaksana, satu dari production house dan satu dari kami yang membantu dalam penjualan tiket. Kami berinisiatif untuk membuat logo saat itu karena melihat logo yang dirilis oleh Panitia Pelaksana kami anggap tidak ‘up to date’ dalam tren disain grafis dewasa ini. Alasan kedua, tentunya menanggapi pencaplokan gambar lukisan yang digunakan oleh Panitia Pelaksana. Namun demikianlah budaya birokrasi saat ini. Kita kurang profesional terhadap segala hal yang kita kerjakan. Kita masih butuh sumberdaya manusia yang lebih kreatif, memiliki pikiran yang lebih modern, berorientasi pada budaya korporasi dan mampu bekerja dalam tim. Ini catatan saja, buat dunia birokrasi kami. Kami, karena saya seorang birokrat! Hehe… just otokritik!
Kegiatan Teater tari & Musik I La Galigo ini memang disadari persiapannya tidak begitu fit. Namun, untuk sebuah langkah awal patutlah diapresiasi. Pemetasan ini merupakan antitesis Teater Tari & Musik I La Galigo karya Robert Wilson yang alpa terhadap budaya Luwu. Luwu adalah roh dalam cerita I La Galigo. Olehnya itu, dengan konsep teater klasik, sutradara Andi Abubakar yang berdarah bangsawan Luwu, berinisiatif untuk mementaskan karyanya yang kaya akan ‘Luwu touching’. Dalam kesempatan ini, sutradara mengisahkan episode pelayaran cinta Sawerigading. Video sederhananya dapat dilihat disini.
Sumpah, kegiatan ini membuat saya puyeng selama hampir 2 bulan! Sebulan sebelum hari H, dan sebulan setelah hari H. Bagi anda yang rajin membuat event, anda pasti tahulah, apa yang membuat kita puyeng jika kegiatan telah selesai.
Dan bagi terselesaikannya hajatan indsutri kreatif ini—walau tidak sesukses yang diharapkan—, saya patut bersyukur dapat berbuat sesuatu untuk kota yang saya cintai ini, Palopo.
Alhamdulillah yah…