Catatan Lawas dari Seminar & Workshop DetikCom

BDI Catatan Lawas dari Seminar & Workshop DetikCom

Bersama BDI, Pemred DetikCom

Saya merasa beruntung mendapat undangan dari detikcom untuk mengikuti Seminar & Workshop Online Media yang mereka gelar di Makassar, Sabtu 2/4/2011 bulan lalu. Saya kini memang lagi gencar-gencarnya memungut-mungut ilmu apa saja, pasca graduation Oktober tahun lalu. Dan untuk kesempatan ini, saatnya saya belajar tentang media online, citizen journalism dan entrepreneurhsip.

Narasumbernya saya pikir keren-keren. Ada Pak Handry dari detikcom, Budiono Darsono sang founder detikcom, Manager Komunikasi PT Telkomsel, dan ‘Si Kambing Jantan’ Raditya Dika. Yang menarik menurut saya ada pada materi pak Budiono Darsono (BDI). BDI dengan sangat komunikatif menjelaskan bagaimana bisnis pemberitaan itu dijalankan sejak 9 Juli 1998. BDI merunut perjalanan detikcom hingga mencapai posisinya saat ini. Menurutnya harus ada kerja keras, ketekunan, dan ketangguhan. Karena kerja kerasnya itu pula, ia bahkan sering lupa sama keluarganya. Jadilah istrinya disebutnya sebagai ‘janda cyber’. Namun, seiring dengan prestasi koorporasi yang dibangunnya, detikcom yang kini menjadi perusahaan berita papan atas di tanah air, BDI
kini mampu untuk hidup lebih dari cukup, hanya dengan mengandalkan ruang-ruang iklan yang ada di detikcom. Dengan pengalaman tersebut, kami diajak untuk mulai melirik bisnis pemberitaan online.

Narasumber yang tak kalah seru pastilah Raditya Dika. Dalam ngeblog—kata Dika—kita harus punya sudut pandang yang berbeda. Dengan adanya sudut pandang yang unik, maka kita akan memiliki karakter yang kuat, orisinil, dan tentunya lain dari yang lain. Jadi, intinya menurut Dika adalah temukan sudut pandang yang tepat! Lebih dari itu, Dika hanya lucu-lucuan sama peserta seminar. Beliau berhasil membuat pipi saya pegal selama kurang lebih sejam karena tertawa terus…haha.

Yang tak kalah seru juga pada saat kegiatan workshop, yang hanya diikuti oleh 50 peserta terpilih. Lebih jauh di sana, materi-materi yang diberikan lebih kepada citizen journalism dan bagaimana menggunakan aplikasi lokal.detik.com. Dan secara sederhana pula, kami diajak melakukan simulasi untuk merilis sebuah berita secara langsung ke dalam portal yang telah diberikan oleh DetikCom. Hasilnya, konten berita saya dapat dilihat di sini.

Posted in Memoar | Tagged , , , , , , , , , | 3 Comments

Be My Wife

Damn why it’s so hard to say
Secret feelings locked away
Heaven knows I’ve always felt so much
For you

I’m not that romantic
Even worse I’m sarcastic sometimes
And now it’s time I tell you this
What’s always been my only wish

Eventhough I’m no spiderman or superman
I’ll be the one who guards you
Night and day and trust me
I don’t need no spiderweb or laser eyes
Cause you’re giving me
The strength to say
Share you life and be my wife

Damn why so hard for me to say
Secret feelings locked away
Heaven knows I’ve always felt this much
For you
I’m not that romantic

Even worse I’m sarcastic sometimes
And now it’s time I tell you this
What’s always been my one
and only wish

Can’t believe what I heard
It’s so beautiful filled in my soul
Please tell me that I’m not dreamin
Will you be my wife… Baby…

Tangga-Be My Wife

Posted in Memoar, Zulhamtorial | Tagged , , , , | 1 Comment

istiqomah

isti jpg istiqomah

Posted in Memoar, Zulhamtorial | Tagged | Leave a comment

Opsal, Opu Tosappaile…

Andi Kambo & Opu Tosappaile

23556991 Opsal, Opu Tosappaile...Opsal Plaza
Opsal Plaza membuat heboh warga Palopo. Saya tak pernah melihat betapa crowded-nya Jalan Opu Tosappaile (Opsal) kecuali dua malam yang lalu itu. Terakhir, seingat saya, jalan Opsal itu sesak ketika ada pembukaan MTQ Sul-Sel tahun lalu. Namun, dua malam yang lalu itu lain. Warga kota ini seakan menjadi besi yang tertarik oleh sebuah magnet. Dan magnet itu bernama Opsal Plaza, yang (konon) merupakan “mal pertama” di Palopo… haha…

Saya tak ingin membahas tentang tempat belanja baru orang Palopo ini. Saya memang belum sempat bertandang kesana. Namun, saat ini saya ingin berbagi informasi tentang nama dari Opsal itu sendiri. Saya yakin, kita-kita yang mendiami Palopo sejak lahir, sebagian besar pasti abai tentang nama Opsal ini. Siapakah dia? Mengapa beliau diabadikan di sebuah jalan protokol dan kini pada sebuah shopping center mewah baru di Palopo? Kita semua pasti ingin tahu lebih banyak tentang Opsal, Opu Tosappaile.

Opu Tosappaile atau Opu To Sappaile, merupakan seorang pejuang Tana Luwu yang kisah hidupnya luput untuk diceritakan kepada anak-anak muda Palopo. Opu Tosappaile bernama asli Andi Baso Lempulle. Lahir sekitar tahun 1870 dari seorang ayah yang bernama Continue reading

Posted in Insight | Tagged , , , , , , , , , , , | 10 Comments

I La Galigo, milik Indonesia

Apakah yang selalu menjadi kebanggaan kami sebagai seorang Luwu? Tak lain tak bukan, karena kami memiliki ruang khusus dalam hikayat I La Galigo. Karya sastra agung ini, selain memiliki nilai seni yang luar biasa indah dengan cerita-cerita yang original, I La Galigo juga mampu menghadirkan nilai-nilai kasih sayang, pesan moral yang luhur,ajaran keagamaan, dan prinsip-prinsip kepemimpinan yang baik kepada para pembacanya.

Karena kebanggan itu pula, pementasan Karya Teater Tari dan Musik yang diinsipirasi dari I La Galigo, pada tanggal 24 April lalu, menjadi sesuatu yang wajib hukumnya untuk saya hadiri. Selain itu, Robert Wilson yang menjadi sutradara pertunjukan tersebut, konon merupakan sutradara terbaik nomor 3 dunia. Dari video-video penampilan I La Galigo yang diunggah di Youtube, nampak sekali betapa sentuhan artistik dalam pementasan teater tari dan musik ini sungguh patut disaksikan. Jadilah, saya yang juga kini giat-giatnya mengakrabi dunia industri kreatif, harus berusaha menghadirkan diri saya di Fort Rotterdam-Makassar hari Ahad itu.

Kami yang lahir dan mendiami Tana Luwu, sedari bangku Sekolah Dasar dulu, masih sering diceritakan tentang penggalan-penggalan kisah Sawerigading (tokoh utama dalam I La Galigo).Kisah-kisah tersebut, di belahan daerah-daerah yang lain, konon memiliki versinya yang lain. Karya sastra ini oleh sebagian besar orang diyakini berbahasa Bugis purba. Namun, berbeda dengan beberapa dari kami yang ada di Tana Luwu, sebagian dari kami mengatakan bahwa bahasa yang digunakan dalam I La Galigo adalah bahasa Luwu. Dalihnya, beberapa penggalan syair dalam I La Galigo tak dapat dipahami oleh orang-orang Bugis sendiri. Namun, oleh orang-orang Luwu, syair-syair tersebut kerap menjadi mantra-mantra atau doa-doa para orang-orang tua di Luwu.Saya tak ingin mendebat tentang itu. Yang penting, dalam pikiran saya, barang ini harus ‘dijual’ kepada dunia. Bukan dalam bentuk fisiknya, namun lebih kepada produk kreatif turunannya, seperti dalam bentuk seni teater ini. Sampai disini, insting sarjana ekonomi saya berjalan dengan baik. icon biggrin I La Galigo, milik Indonesia

download I La Galigo, milik Indonesia

Adegan dalam I La Galigo

Teater Tari dan Musik I La Galigo yang dibesut om Wilson ini, jika kita tak memiliki pemahaman awal tentang cerita Galigo, pasti akan sulit mencerna adegan-adegan yang disuguhkan. Karya teater ini menampilkan sepuluh adegan mulai dari penciptaan dunia tengah, hingga diakhirinya peran para dewa di dunia. Yang paling menarik menurut saya, ada pada adegan kedelapan, di mana Sawerigading meminang seorang putri di Cina yang bernama We Cudai. Dalam adegan ini, paman Wilson mampu menampilkan tata gerak dan cahaya yang sangat spektakuler. Baik itu ketika meminta izin untuk menikahi putri tersebut dan ketika mengirim mahar perkawinan, sampai pada adegan peperangan yang sangat seru. Continue reading

Posted in Insight, Memoar | Tagged , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

Hidup adalah…

hidup2 Hidup adalah...

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 3 Comments

Memanajemeni Atasan

buku memanajemeni atasan sampul Memanajemeni AtasanSaya sangat menikmati materi Pak Mario Teguh dalam acara MTGW-nya dua pekan lalu yang membahas The Toxic Boss! Dalam dunia kerja yang saya geluti yang telah memasuki tahun kelima ini, saya memang terkadang menemukan atasan yang kerap menebar racun kepada bawahannya. Dan sayangnya, sebagai seorang bawahan, kita dituntut untuk tetap bekerja optimal dalam kondisi beracun tersebut. Pilihannya memang hanya ada dua menurut Pak Mario: tetap bertahan dalam seburuk-buruk kepemimpinan, atau pindah dari lingkungan tersebut!

Untuk anda yang tetap bertahan dalam seburuk-buruk kepemimpinan itu, maka pastikan anda berada dalam Continue reading

Posted in Buku, Insight | Tagged , , , , , , , , , | 6 Comments